My New Vision, My New Sight…
Sebenarnya ini bukan masalah ideologi atau kesadaran dari suatu renungan… Melainkan kegembiraan saya ketika mengetahui bahwa saldo di rekeningku sudah lebih dari cukup untuk nge-purchase seunit digicam . Saya langsung siap-siap berangkat ke Bandung Electronic Center untuk membeli kamera digital yang sudah lama saya idam-idamkan. Kebetulan ada seorang rekan yang ingin ditemani ke BEC untuk hunting produk Sony Ericsson. Entah mengapa saya dipilih sebagai mahkluk yang pantas menemaninya, mungkin karena dia tahu kalau saya ini SONY and Sony Ericsson minded jadi bisa dijadikan konsultan :p… Tapi hal yang membuat keberuntungan bagiku tidak lain karena doi punya motor, jadi saya ga perlu naek angkot 3 kali dari kosanku yang terletak nun jauh disebelah selatan bandung (kabupaten loh, bukan kotanya), Dayeuh Kolot…
Sebelum ke BEC kami mampir di Sony Ericsson Service Center @ jl. karapitan buat ngambil earphone HPM 82 ku yang udah ngendep di sana hampir 3 Minggu. Bukan kesalahan Service Centernya sih, soalnya waktu clerk-nya nelpon buat konfirmasi pengambilan barang, saya masih berada nun jauh di sulawesi menikmati hangatnya sunset pantai losari bersama keluarga di saat libur lebaran.
Selagi menanti antrian, teman saya kemudian mengintrogasi saya dengan berbagai pertanyaan mengenai produk Sony Ericsson, kebetulan prototype tiap class dari Walkman hingga Cyber-shot dipajang di berbagai meja bundar yang tersebar di tengah ruang tunggu itu, jadi lebih mudah ngejelasinnya. Kalau dipikir-pikir, saya sepertinya lebih cocok jadi sales dari pada mahasiswa informatika (semoga aja ga ada yang mikirin.. hehehe) . Kami kemudian bergegas menuju BEC setelah earphoneku sudah berada dalam tas denimku.
BEC ramai seperti biasanya, berbagai perbincangan transaksi dan tawar-menawar terdengar riuh memenuhi ruangan. kami berdua langsung menuju ke 3rd Floor untuk melakukan searching. tidak sulit menemukan kamera digital itu, setelah membanding-bandingkan harga dengan counter lain akhirnya transaksi dilakukan dengan cashier pada counter terakhir. Sebenarnya counter itu menawarkan harga 25 ribu lebih mahal, namun kilau warna biru dari casing stainless steel kamera digital itu cuma kutemukan di situ. (that’s my fave color). Setelah transaksi, cuci mata (ngeliat gadget lho…), ngemil en Shalat, kami langsung kembali menuju peradaban dayeuh kolot. Terjebak macet beberapa kali, namun Alhamdullah tiba dengan selamat.
Setelah saling mengucapkan terima kasih, segera kubuka pintu kamar dan langsung merebahkan diriku di atas kasur. Melelahkan, namun kotak berbentuk trapesium khas packaging Digital Still Camera dari Sony mampu mengembalikan semua energiku. dengan lincah tanganku membuka dus tersebut dan langsung memasukkan batere Lithium-Ion NP-BD1 kedalam body Cyber-shot DSC T2 dan langsung menekan tombol power . logam yang menyelimuti body kamera itu terasa dingin di tanganku, terlihat kokoh dan solid. setelah melakukan skimming manual book, beberapa aksi jepret pun kulakukan, kebanyakan dengan mode macro, dan Sony Ericsson W950i-ku yang menjadi korban pertama.
Kehebatan asisten baruku ini sangat memuaskan, berikut daftar skill yang doi miliki…
- 4GB Internal Memory (motret sesuka hati hehehe…)
- Photo Album & Scrapbook
- Smile Shutter (ngejepret pas objek lagi senyum
) - Face Detection Technology (ngedeteksi dan fokus pada wajah)
- 8.1 Mega Pixels with Super HAD CCD (bisa dicetak di A3)
- 2.7″ Touch Screen LCD (atraktif banget…!!)
- Carl Zeiss® Vario-Tessar Lens with 3x Optical Zoom
- BIONZ Image Processing Engine
- Super SteadyShot (cegah blur dari manual shutter)
- HD Slide Show with Select Music Playback
- 1 cm Macro Mode (ini fitur yang paling saya suka…)
- High Definition Output (for still image)
-
MPEG Movie VX Fine 640 x 480, 30fps (bisa sekalian jadi Handy-Cam loh.. kualitas lumayanlah..)
